Gempuran Tren 'Minimal-Minimal' di Medsos: Ilusi atau Realita Cinta Masa Kini?
Tentu saja, setiap manusia berhak memimpikan kehidupan mereka dan memiliki cara tersendiri untuk mencapainya. Mari kita gunakan analogi sederhana: Bayangkan dua orang sedang duduk, lalu salah satunya merasa haus. Ada segelas air berjarak lima puluh meter dari mereka. Orang yang haus ini memiliki dua opsi: berjalan sendiri mengambil air tersebut, atau meminta tolong temannya. Jika ia meminta tolong, sang teman pun dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menolak atau menerimanya. Jika menolak, kedekatan emosional mungkin tidak terjalin. Namun, jika menerima, ia memang berpeluang membangun kedekatan, tetapi harus rela melangkah sejauh lima puluh meter untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
Analogi tersebut sangat selaras dengan fenomena standar pasangan saat ini. Seseorang yang memilih untuk memenuhi standar tersebut tentu harus menghadapi berbagai konsekuensi. Ia mungkin harus berusaha keras melakukan berbagai cara agar mencapai kriteria itu. Meskipun akhirnya ia bisa mendapatkan kekasih idaman, proses ini sering kali sangat menguras tenaga. Konsekuensi terburuknya adalah timbulnya rasa lelah karena harus melakukan hal-hal di luar kebiasaannya, serta memikul tekanan untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya bukanlah prioritas pribadinya.
Sebaliknya, jika kita menolak tunduk pada standarisasi yang tidak selaras dengan impian kita, kita mungkin akan kehilangan kesempatan bersama orang tersebut. Namun, nilai positifnya adalah kita tetap merasa tenang dan tidak kelelahan karena terbebas dari tuntutan ekspektasi orang lain.
Standarisasi ini tentu tidak muncul dengan sendirinya; selalu ada pemicu di baliknya, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pertemanan. Seseorang yang lahir di keluarga kaya mungkin menganggap wajar jika ia mencari pasangan dengan status ekonomi setara. Begitu pula dengan dorongan dari masyarakat atau lingkaran pertemanan; ketika dikelilingi oleh orang-orang mapan, seseorang bisa dengan mudah ikut-ikutan dan menganggap materi sebagai tolak ukur yang normal.
Faktor lain yang sangat masif adalah media sosial. Seringnya kita melihat pameran kekayaan dapat secara tidak sadar meracuni pola pikir kita. Media sosial adalah gudang informasi tanpa batas yang menyebar dengan sangat cepat menembus berbagai kultur. Oleh karena itu, kita harus mampu mengontrol dan memahami isi media sosial. Pilihlah informasi yang berdampak baik dan hindari yang buruk. Tanpa penyaringan yang tepat, kita bisa dengan mudah terbawa arus, menelan mentah-mentah semua informasi, dan kehilangan arah karena tidak tahu lagi mana yang benar dan salah.
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Pada akhirnya, kita memiliki kebebasan penuh untuk menentukan tantangan atau penderitaan mana yang *worth it* (layak) untuk dihadapi. Setiap keputusan pasti membawa konsekuensinya masing-masing; masalah tertentu akan datang mengikuti jalan yang kita pilih. Kuncinya adalah menyesuaikan diri dan menentukan di posisi mana kita mampu bertahan. Apakah kita siap menerima pasangan dengan segala kriteria kehidupannya tanpa merasa keberatan, ataukah kita memilih untuk melepaskannya dengan lapang dada?.
Ukur kemampuanmu! Itulah hal yang terpenting, karena dari sana kita bisa melihat di mana kita sanggup bertahan dan berkembang. Jadilah manusia merdeka yang bebas memilih. Gunakan akal pikiranmu untuk menakar apa yang terbaik, tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Semoga sudut pandang ini dapat memberikan manfaat. *Love yourself and keep surviving.* Terima kasih.

Komentar